Déjà vu………………??

Déjà vu

Akhir pekan ini mas Widi mengajak Tio menengok kampung kelahiran kak Anis, tunangannya. Agar ada teman berlibur, Tio diperbolehkan mengajak sahabatnya Ibek. Tentu saja Ibek senang. Sebaba ia juga belum pernah mengunjungi daerah Lembang yang berada di utara kota Bandung.

“Aku sudah dengar daerah itu sangat sejuk dan tenang.” Kata Ibek saat mobil yang dekendarai Mas Widi mulai melaju.

“Aku malah penasaran pingin minum susu murni. Dan kalau malam hari, kita bisa makan jagung bakar empat rasa.” Tambah Tio tak mau kalah.

“Empat rasa bagaimana kamu? Rasa kaldu ayam, rasa baso sapi, rasa……..”

“Bukan begitu, Bek,”timpal kak Anis menahan senyum. “Jagungnya sebelum dibakar diolesi mentega dulu,lalu sambal manis yang pedas.”

Ibek hanya cengengesan. Mereka kemudian mengisi waktu perjalanan dengan bermain teka-teki. Banyak teka-teki yang dilontarkan Ibek dan bisa dijawab oleh Tio. Seperti ketika  Ibek melontarkan pertanyaan,

“Kalau sapi jadi rumput, manusi jadi apa ayo?”

“Manusia jadi nasi. Soalnya rumput itu makanan sapi, sedangkan nasi itu makanan manusia.” Jawab Tio memberikan alasan.

“Salah. Kalau sapi jadi rumput, manusia jadi pada binguuuuung. Kan ajaib ada sapi bisa jadi rumput.” Kilah Ibek.

Tio garuk garuk kepala, sementara Mas Widi dan Kak Anis tertawa kecil. Permainan teka-teki mereka terhentu ketika kak Anis  mengatakan bahwa mereka sudah memasuki daerah Lembang. Namun ketika mobil keluar dari jalan raya menuju jalan desa,  Ibek tercekat kaget melihat sebuah menara tua di sudut belokan.

“Rasa rasanya aku pernah melihat tempat seperti ini.” Gumamnya keras.

“Déjà vu….!!!.” seru Kak Anis.

“Apaan?” Ibek dan Tio bertanya bareng.

“Déjà vu. Itu seruan orang-orang Prancis kalau melihat sesuatu yang sepertinya pernah mereka lihat. Padahal sesungguhnya mereka memang baru pertama kali melihatnya.” Jelas mas Widi sambil terus menyupir.

“Ko bisa begitu, Mas?” tanya Tio penasaran.

“Ya mungkin dia pernah melihatnya di TV , di dalam mimpi, atau saat khayalan.”

“Kalau ga salah setelah ini kita akan melewati jembatan.” Gumam Ibek lagi.

“Janan sok tahu! Kamu kan baru sekali ini kemari.” Cela Tio.

“Ibek benar. Tuh, di depan jembatannya.” Timpal kak Anis.

Tio terperanjat. Ia memandang Ibek takjub.

“Bagaimana kamu bisa mengetahuinya?” tanyanya kemudian.

“Aku tak mengerti. Tiba-tiba saja aku merasa pernah melihat semuanya.”

“Jangan-jangan sekarang kamu berubah jadi paranormal. Kamu bisa tahu lebih dulu apa yang akan terjadi, seperti cerita yang pernah aku lihat di TV.” Ujar Tio sambil memegang bahu sahabatnya.

“Coba tebak sekarang, kalau besar nanti aku jadi apa?”

Ibek memejamkan matanya sebentar. “Jadi tukang sapu.” Katanya sambil membuka mata.

Tio langsung melotot. Ibek tertawa melihat sahabatnya kesal.

“Aku bercanda. Sungguh, aku tidak tahu kamu nanti jadi Apa. Lagipula yang aku ketahui mungkin hanya kebetulan saja.” Kata Ibek meredakan kekesalan Tio.

“Yeh..kalau begitu sih, semua juga mau!”

Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di pelataran parkir sebuah rumah yang luas. Mereka segera turun dan berkenalan dengan kedua orang tua Kak Anis. Pak Wiryanegara ternyata pemilik perkebunan palawija yang luas di Lembang. Tio, Mas Widi, dan Ibek menempati sebuah paviliun yang asri disamping rumah Pak Wiryanegara.

Saat sore tiba mereka duduk di beranda sambil menikmati susu murni yang sudah diolah menjadi youghurt. Kak Anis juga mengolah susu itu dengan tambahan cokelat agar tidak terlalu asam.

“Rasanya aku juga sudah pernah berada di tempat ini. Kak Anis, apakah tidak jauh dari tempat ini ada telaga kecil dengan bebek Bali yang berenang setiap hari?” tanya  Ibek sambil menghabiskan yoghurt nya.

“Ya, telaga itu memang ada. Tapi bebek Bali yang berenang itu tidak ada lagi. Mungkin sekitar lima taun lalu  kamu bisa  melihatnya dan…..” Kak Anis memotong kalimatnya untuk berpikir beberapa saat.

Sementara Tio semakin kagum dengan sahabatnya yang punya keajaiban.

“Kakak tahu sekarang, apa sebabnya Ibek  seolah pernah datang ke tempat ini.” Cetus Kak Anis kemudian. “Kamu pasti suka baca buku cerita kan? Coba kamu ingat-ingat apakah kam pernah  membaca buku cerita yang berjudul Kampung Kami Tercinta.?”

Ibek berusaha mengingatnya. “Ya, tapi sudah lama sekali. Waktu kelas tiga dulu.” Sahutnya.

Kak Anis tersenyum. “Buku itu ditulis paman Kak Anis empat tahun lalu. Isi buku cerita itu banyak melukiskan keadaan desa ini. Termasuk telaga kecil dengan bebek Balinya. Karena bebek Bali itu memang milik paman kakak. Kamu ingat nama pengarangnya? Herdian. Itu nama samarannya.” Jelas Kak Anis.

Ibek manggut-manggut.

“Ya, benar. Aku ingat sekarang. bahkan aku juga ingat kembali semua bagian cerita buku itu. Soalnya buku itu bagus sekali.” Ujar Ibek.

“Ya ..begitulah kerja otak kita. Dia akan menyimpan ke dalam bagian dari otak yang disebut memori, untuk apa saja yang kita alami lewat panca indera kita. Sesekali apa yang disimpan dalam memori itu keluartanpa sengaja, seperti yang dialami Ibek hari ini.” Mas Widi membantu menjelaskan.

“Wah, kalau begitu tadi bukan keajaiban dong! Kupikir Ibek benar-benar akan menjadi paranormal. Kan hebat kalau dia bisa jadi orang sakti.” Gerutu Tio.

“Apalagi kalau aku bisa menyihir. Akan kusihir kamu jadi bebek Bali! Sambung Ibek.

Semuanya langsung tertawa. Tio yang semula kesal akhirnya  ikut tertawa.

 

 

 

Sumber: buku cerpen “Nilai Sebuah Kenanagan”

Pustaka Ola

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s